15 HADITS TENTANG PENGAMPUNAN DOSA
Setiap manusia pasti pernah melakukan perbuatan dosa. Namun kita diharuskan agar senantiasa meminta ampunan kepada Allah dalam keseharian kita.
Berikut ini dalil – dalil yang berkaitan dengan pengampunan dosa antara lain :

1.    Dari Mu'az bin Jabal r.a., katanya: "Saya ada di belakang Nabi s.a.w. ketika menaiki seekor keledai, lalu beliau s.a.w. bertanya: "Hai Mu'az, adakah engkau tahu, apakah haknya Allah atas sekalian hambaNya dan apakah haknya hamba-hamba itu atas Allah?" Saya menjawab: "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui." Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya haknya Allah atas semua hamba-hambaNya ialah supaya mereka itu menyembahNya dan tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, sedang haknya hamba-hamba atas Allah ialah Allah tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah itu." Saya lalu berkata: "Bukankah baik sekali jikalau berita gembira ini saya beritahukan kepada seluruh manusia?" Beliau s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau mem-beritakan ini kepada mereka sebab mereka nantinya akan menyerah bulat-bulat - tanpa suka beramal." (Muttafaq 'alaih)

2.    Dari Albara'bin 'Azib, Nabi Muhammad s.a.w., bersabda: "Seorang Muslim itu apabila ditanya dalam kubur, maka ia akan menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa-sanya Muhammad adalah Rasulullah. Yang sedemikian itu adalah sesuai dengan firmannya Allah Ta'ala - yang artinya: "Allah mem-bertkan ketetapan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang mantap, baik di dalam kehidupan dunia ini, maupun dalam akhirat." (Muttafaq 'alaih)

3.    Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan sesuatu amal kebaikan, maka dengannya itu ditujukan untuk didapatkannya sesuatu makanan di dunia - yakni tujuannya semata untuk memperoleh rezeki di dunia saja, sedangkan orang mu'min, maka sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan simpanan untuknya berupa beberapa kebajikan di akhirat dan diikutkan pula dengan memperoleh rezeki di dunia dengan sebab ketaatannya."

4.    Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang mu'min akan kebaikannya, dengannya itu akan diberikan rezeki di dunia dan dengannya pula akan diberi balasan baik di akhirat. Adapun orang kafir, maka ia akan diberi makan - yakni rezeki - dengan kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil amalannya karena Allah Ta'ala di dunia, sehingga apabila ia telah menjadi - yakni memasuki - ke akhirat,  maka  sama  sekali  tidak  ada  lagi  kebaikan  baginya  yang  dapat  diberikan  balasannya." (Riwayat Muslim)

5.    Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaan shalat-shalat lima waktu itu adalah seperti sungai yang mengalir secara melimpah-ruah pada pintu rumah seseorang dari engkau semua. Ia mandi di situ setiap hari lima kali." (Riwayat Muslim)

6.    Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang muslimpun yang meninggal dunia, kemudian berdiri untuk menyembahyangi jenazahnya itu sebanyak empat puluh orang yang semuanya tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, melainkan Allah akan mengaruniakan syafaat kepada orang yang mati tadi." (Riwayat Muslim)

7.    Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Kita semua berada bersama-sama Rasulullah s.a.w. dalam sebuah kemah, kira-kira ada empatpuluh orang, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Relakah engkau semua jikalau engkau semua - ummat Muhammad semuanya ini - menjadi seperempatnya ahli syurga?" Kita semua menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. bersabda pula: "Relakah engkau semua kalau menjadi sepertigaahli syurga." Kita semua menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Demi Zat yang jiwa Muhammad ada  di  dalam  genggaman  kekuasaanNya, sesungguhnya saya  mengharapkan kalau engkau semua itu akan menjadi setengahnya ahli syurga. Yang sedemikian itu karena sesungguhnya syurga itu tidak dapat dimasuki melainkan oleh seseorang yang Muslim, sedangkan engkau semua bukanlah ahli kemusyrikan, melainkan seperti rambut putih dalam kulit lembu yang hitam atau seperti rambut hitam dalam kulit lembu yang merah." (Muttafaq 'alaih)

8.    Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau telah tiba hari kiamat, maka Allah menyerahkan kepada setiap orang Islam akan seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Allah berfirman: "Inilah hari kelepasanmu dari neraka." Dalam riwayat lain disebutkan dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Pada hari kiamat datanglah beberapa orang dari kaum Muslimin dengan membawa dosa sebesar gunung-gunung, lalu diampunkanlah oleh Allah untuk mereka itu." (Riwayat Muslim)

9.    Sabda Nabi s.a.w.: "Allah menyerahkan kepada setiap orang Islam akan seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Allah berfirman: "Ini hari kelepasanmu dari neraka,"artinya itu dijelaskan oleh Hadis Abu Hurairah r.a. yaitu: "Setiap orang itu mempunyai sebuah tempat di syurga dan sebuah tempat lagi di neraka. Orang mu'min itu apabila telah masuk syurga, maka akan diikuti oleh orang kafir untuk masuk dalam neraka sebab sebenarnya orang kafir itu memang berhak sekali untuk menempati tempat di neraka   itu   sebab   kekafirannya."Adapun  arti   fakakuka,   ialah   bahwasanya   engkau   itu   sudah ditampakkan untuk masuk neraka, tetapi hari inilah kelepasanmu dari neraka itu, sebab Allah Ta'ala telah menentukan untuk neraka itu sejumlah isi yang akan menemuinya, maka jikalau kaum kafirin telah memasuki neraka dengan sebab dosa-dosa serta kekafirannya, maka berartilah bahwa peristiwa itu menjadi hari kelepasan kaum Muslimin dari siksa neraka tadi.

10.    Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: "Di  dekatkanlah  orang  mu'min  itu  pada  hari  kiamat  dari  Tuhannya,  sehingga  Allah meletakkan tutupNya atas orang mu'min tadi, kemudian Allah menetapkan semua dosanya, tetapi Allah lalu berfirman: "Adakah engkau mengerti tentang dosanya demikian? Tahukah engkau dosanya sedemikian ini?" Orang itu menjawab: "Ya Tuhanku, saya tahu." Allah lalu berfirman: "Sesungguhnya dosa-dosa itu telah Kututupi untukmu di dunia dan pada hari ini Kuampuni semuanya itu bagimu, kemudian diberikanlah catatan amalan kebaikannya." (Muttafaq 'alaih)

11.     Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya ada seorang lelaki memberikan ciuman pada seseorang wanita - bukan isterinya, lalu ia mendatangi Nabi s.a.w. kemudian memberitahukan padanya akan halnya. Allah Ta'ala lalu menurunkan ayat - yang artinya: "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan sebagian dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu dapat melenyapkan Orang itu lalu bertanya: "Apakah ayat itu untukku saja,ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. bersabda: "Untuk semua ummatku." (Muttafaq 'alaih)

12.    Dari  Anas  r.a.,  katanya: "Ada  seorang datang  kepada Nabi  s.a.w.,  lalu  berkata: "Ya Rasulullah, saya telah melakukan sesuatu yang wajib dikenakan had - hukuman, maka laksanakanlah itu untukku." Waktu itu sudah tiba saatnya shalat, lalu ia bersembahyang bersama Rasuluilah s.a.w. Selanjutnya setelah selesai shalatnya, orang itu berkata lagi: "Ya Rasulullah, saya telah melakukan perbuatan yang wajib dikenakan had, maka laksanakanlah itu untukku sesuai dengan kitabullah." Beliau s.a.w. bertanya: "Apakah engkau telah melakukan shalat bersama kita tadi?" Ia menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. bersabda: "Telah diampunkan dosa itu untukmu." (Muttafaq 'alaih)

13.    Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya  Allah  itu  niscayalah  ridha  pada  seseorang  hambaNya,  jikalau  ia  makan sesuatu makanan lalu memuji kepada Allah karena adanya makanan itu, atau minum suatu minuman lalu memuji padanya karena adanya minuman itu." (Riwayat Muslim)

14.    Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya Allah itu membeberkan tanganNya yakni kerahmatanNya - di waktu malam hari, supaya bertaubatlah orang yang melakukan keburukan pada siang harinya,serta membeberkan tanganNya - kerahmatanNya - di siang hari,  supaya bertaubatlah orang  yang  melakukan keburukan pada  malam  harinya. Hal  in  terus sampai matahari terbit dari arah barat - maksudnya sampai dekat tibanya hari kiamat." (Riwayat Muslim)


15.    Dari Abu Najih yaitu 'Amr bin 'Abasah - dengan menggunakan 'ain dan ba' - Assulami r.a., katanya: "Dahulu semasih saya berada di zaman Jahiliyah mengira bahwa para manusia itu dalam kesesatan dan bahwasanya mereka itu tidak memperoleh kemanfaatan apa-apa dalam hal mereka menyembah berhala-berhala itu. Kemudian saya mendengar ada seseorang lelaki di Makkah yang memberitahukan berbagai berita luarbiasa dan agung, lalu saya duduk di atas kendaraanku untuk bepergian, kemudian datanglah saya pada orang itu. Tiba-tiba di kala itu Rasulullah s.a.w. sedang bersembunyi - dari kaum kafirin dan musyrikin. Keadaan kaumnya adalah berani-berani padanya - maksudnya: bukannya serba ke-takutan semacam menghadapi raja. Kemudian saya beramah-tamah - dengan seorang Quraisy, sehingga saya memasuki kota Makkah. Kepada orang itu - yakni Rasulullah s.a.w. - saya bertanya: "Siapakah anda?" Jawabnya: "Saya seorang Nabi." Saya bertanya lagi: "Apakah Nabi itu." Jawabnya: "Saya diutus oleh Allah." Saya bertanya lagi: "Dengan membawa ajaran apakah anda diutus?" Jawabnya: "Allah mengutus saya dengan ajaran supaya mempereratkan kekeluargaan, mematahkan semua berhala dan supaya hanya Allah jualah yang dimahaesakan serta tidak disekutukanlah sesuatu denganNya." Saya bertanya pula: "Siapakah yang sudah menjadi peserta anda?"  Jawabnya:  "Seorang  merdeka  dan  seorang  lagi  hambasahaya."  Pada  saat  itu  yang  telah menjadi pengikutnya ialah Abu Bakar dan Bilal radhiallahu 'anhuma. Kemudian saya berkata: "Saya ingin menjadi pengikut anda." Jawabnya: "Sesungguhnya anda tidak kuat untuk menjadi pengikutku pada saat sekarang ini. Tidak anda ketahuikah bagaimana hal-ihwalku dan hal-ihwal para manusia ini - yakni bahwa beliau s.a.w. selalu dikejar-kejar untuk disakiti. Tetapi sekarang kembalilah ke tempat keluarga anda. Nanti jikalau anda telah mendengar tentang diriku bahwa aku telah muncul - memperoleh kemenangan, maka datanglah padaku." Abu Najih berkata: "Saya lalu pergi menemui keluargaku lagi. Rasulullah s.a.w. datang di Madinah  -  setelah  agak  lama  dari  terjadinya peristiwa di  atas.  Saya  masih  berada  di  kalangan keluargaku, lalu mulailah saya mencari-cari beberapa berita dan saya bertanya kepada orang banyak ketika datangnya di Madinah, sehingga datanglah kepadanya itu sekelompok dari penduduk Madinah. Saya bertanya kepada orang Madinah: "Apakah yang dilakukan oleh lelaki - yakni Nabi s.a.w. - yang datang di Madinah itu?" Orang-orang menjawab: "Orang-orang sama bergegas-gegas menyambutnya. Kaumnya sendiri sudah menginginkan akan membunuhnya, tetapi mereka tidak dapat melakukan yang sedemikian itu." Selanjutnya datanglah saya di Madinah dan saya masuk menghadap padanya. Kemudian saya berkata: "Ya Rasulullah, adakah anda mengenal saya?" Beliau menjawab: "Ya, engkau yang menemui saya dahulu di Makkah?" Saya berkata lagi: "Ya Rasulullah beritahukanlah padaku tentang apa-apa yang  dipelajarkan  oleh  Allah  pada  anda  dan  yang  saya  tidak  mengetahuinya.  Beritahukanlah kepadaku  perihal  shalat."  Jawabnya: "Shalatlah  shalat  Subuh,  lalu  berhentilah melakukan shalat sehingga matahari terbit sampai berada di atas setinggi batang galah, sebab sesungguhnya matahari itu terbit di antara kedua ujung tanduk syaitan dan di saat itu bersujudlah orang-orang kafir pada matahari tadi. Kemudian bersembahyanglah - sesuka hatimu dari shalat-shalat sunnah, sebab sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat. Demikian itu sehingga menyedikitlah bayangan galah tadi - jikalau ditanam tegak. Selanjutnya berhentilah melakukan shalat, sebab di kala itu sesungguhnya neraka Jahanam sedang menyala hebat-hebatnya. Jikalau bayangan telah lalu - ke arah timur, maka bersembahyanglah - yakni Zuhur, sebab sesungguhnya shatat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat, sehingga anda bersembahyang 'Ashar, kemudian berhenti pulalah  melakukan  shalat  itu,  sehingga  matahari  terbenam,  sebab  sesungguhnya  matahari  itu terbenam di antara kedua ujung tanduk syaitan dan di kala itu bersujudlah orang-orang kafir kepada matahari tadi. Abu Najih berkata selanjutnya: "Saya terus berkata lagi: "Ya Nabiullah, tentang wudhu' beritahukanlah itu kepadaku!" Beliau s.a.w. bersabda: "Tiada seorangpun dari engkau semua yang menyediakan air wudhu'nya, kemudian ia berkumur-kumur lalu mengisap air dalam hidung lalu mengeluarkannya lagi dari hidungnya itu melainkan jatuhlah semua kesalahan wajahnya, mulutnya dan pangkal hidungnya. Kemudian apabila ia membasuh mukanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan wajahnya dari ujung-ujung janggutnya beserta air, kemudian membasuh kedua tangannya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan kedua tangannya dari jari-jarinya   beserta   air,   kemudian   mengusap   kepalanya,   maka   jatuhlah   kesalahan-kesalahan kepalanya dari ujung-ujung rambutnya beserta air, kemudian membasuh kedua kakinya sampai kedua tumitnya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan kakinya dari jari-jarinya beserta air. Seterusnya jikalau orang itu berdiri lalu bersembahyang, bertahmid serta memuji dan memaha agungkan Allah yang memang Allah itu belaka yang ahli - memiliki puji-pujian dan keagungan - tadi, juga mengosongkan hatinya untuk semata-mata ditujukan kepada Allah Ta'ala, maka setelah ia selesai semuanya, ia akan terlepas dari kesalahan-kesalahannya sebagaimana keadaannya ketika pada hari dilahirkan oleh ibunya - yakni bersih sama sekali dari segala macam kesalahan dan dosa." 'Amr bin 'Abasah memberitahukan Hadis ini kepada Abu Umamah, yakni sahabat Rasulullah s.a.w. lalu Abu Umamah berkata padanya: "Hai'Amr, lihatlah apa yang engkau katakan itu,seseorang dapat diberi pahala sebanyak itu hanya dalam satu tempat saja, patutkah sedemikian itu." Abu Umamah bertanya demikian karena agaknya masih sangsi akan kebenaran Hadis yang dibawa oleh 'Amr tadi. 'Amr lalu menjawab: "Hai Abu Umamah, usiaku ini sudah tua, tulang-tulangku pun sudah lemah,  bahkan  ajalku  juga  sudah  hampir  sampai.  Saya  merasa  tidak  akan  ada  gunanya  untuk membuat kedustaan atas nama Allah atau atas diri Rasulullah s.a.w. Andaikata saya tidak mendengar sendiri dari Rasulullah s.a.w., melainkan sekali, atau dua kali, tiga kali - sampai dihitung-hitungnya sebanyak tujuh kali, pasti saya tidak akan memberitahukan Hadis ini selama-lamanya. Tetapi saya mendengar Hadis itu bahkan lebih banyak lagi dari sekian kali itu." (Riwayat Muslim)


SYUKRON KATSIRON