Assalamualaikum Wr. Wb.
DALIL TENTANG BERJIHAD DENGAN MENAHAN NAFSU

Sahabatku seiman dan seperjuangan.

Hidup adalah perjuangan yang indah dan abadi. Semua yang telah kita lakukan adalah perjuangan menuju ridho-Nya . Namun jihad yang paling besar yaiu memerangi hawa nafsu dan melawan kemungkaran dimuka bumi ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dibawah ini :



Allah Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang menahan kemarahan dan yang memaafkan kepada orang banyak dan
Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan," (ali-lmran: 134)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Dan niscayalah orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang sedemik'ian itu adalah termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati." (as-Syura:
43)

Hadis-hadis yang diterangkan yaitu antara lain :

•    Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya itu mempunyai beberapa orang kerabat, mereka saya hubungi - yakni dipereratkan ikatan kekeluargaannya, tetapi mereka memutuskannya, saya berbuat baik kepada mereka itu, tetapi mereka berbuat buruk pada saya, saya bersikap sabar kepada mereka itu, tetapi mereka menganggap bodoh mengenai sikap saya itu." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau benar sebagaimana yang engkau katakan itu, maka seolah-olah mereka itu engkau beri makanan abu panas -yakni mereka mendapat dosa yang besar sekali. Dan engkau senantiasa disertai penolong dari Allah dalam menghadapi mereka itu selama engkau benar dalam keadaan sedemikian itu." (Riwayat Muslim)

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan barangsiapa yang mengagungkan peraturan-peraturan suci dari Allah, maka itulah yang terbaik baginya di sisi Tuhannya." (al-Haj: 30) Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Jikalau engkau memberikan pertolongan kepada agama Allah maka Allah pasti memberikan pertolongan kepadamu semua dan menetapkan kaki-kakimu." (Muhammad: 7)

•    Dari Abu Mas'ud iaitu 'Uqbah bin 'Amr al-Badri r.a., katanya: "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: "Sesungguhnya saya nescayalah membelakangkan diri dari solat subuh yakni tidak ikut berjema'ah karena si Fulan itu, kerana ia memanjangkan bacaan suratnya untuk kita." Maka saya - Abu Mas'ud - sama sekali tidak pernah melihat Nabi s.a.w. marah dalam nasihatnya lebih daripada marahnya pada hari itu. Beliau s.a.w. bersabda: "Hai sekalian manusia, sesungguhnya di antara engkau semua ada orang-orang yang menyebabkan larinya orang lain. Maka siapa saja di antara engkau semua yang menjadi imam orang banyak dalam bersembahyang hendaklah ia menyingkatkan bacaannya, sebab sesungguhnya di belakangnya itu ada orang yang sudah tua, anak kecil dan ada pula orang yang segera hendak mengurus keperluannya." (Muttafaq
'alaih)

•    Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. datang dari berpergian dan saya telah memberikan tutup dalam rumahku dengan tabir yang tipis sekali, di situ ada beberapa gambar boneka. Setelah Rasulullah s.a.w. melihatnya lalu dirosaknya dan berubahlah warna wajahnya serta bersabda: "Hai Aisyah, sesangat-sangatnya manusia dalam hal seksanya di sisi Allah pada hari kiamat ialah orang-orang yang menyamai dengan apa-apa yang diciptakan oleh Allah." (Muttafaq 'alaih)

•    Dari Aisyah radhiallahu'anha pula bahawasanya orang-orang Quraisy disedihkan oleh peristiwa seorang wanita dari golongan Makhzum yang mencuri dan wajib dipotong tangannya. Mereka berkata: "Siapakah yang berani memperbincangkan soal wanita ini dengan Rasulullah s.a.w.?" Kemudian mereka berkata pula: "Tidak ada rasanya seseorang pun yang berani mengajukan perkara ini maksudnya untuk meminta supaya dimaafkan dan hukuman potong tangan diurungkan - melainkan Usamah bin Zaid, yaitu kecintaan Rasulullah s.a.w. Usamah lalu membicarakan hal tersebut pada beliau s.a.w., kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Adakah engkau hendak meminta tolong dihapuskannya sesuatu had hukuman dari had-had yang ditentukan oleh Allah Ta'ala?" Seterusnya beliau berdiri dan berkhutbah: "Hanyasanya yang menyebabkan rosak akhlaknya orang-orang yang sebelummu semua itu ialah karena mereka itu apabila yang mencuri termasuk golongan yang mulia di kalangan mereka, orang tersebut mereka biarkan saja-yakni tidak diterapi hukuman apa-apa, sedang apabila yang mencuri itu orang yang lemah - miskin dan tidak berkuasa, maka mereka laksanakanlah hadnya. Demi Allah yang mengurniakan keberkahan, andaikata Fathimah puteri Muhammad itu mencuri niscayalah saya potong pula tangannya,"-yakni sekalipun anak sendiri juga harus diterapi hukuman sebagaimana orang lain. (Muttafaq 'alaih)

•    Dari Anas r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. melihat ada hingus di arah kiblat, maka hal itu dirasakan amat berat sekali dalam hatinya, sehingga tampaklah di wajah beliau itu. Selanjutnya beliau berdiri dan menggaruknya yakni menggosok-gosoknya dengan tangan nya - dan hingus itu dapat hilang sebab telah kering. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya apabila seseorang di antara engkau semua itu berdiri dalam solatnya, maka sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya di kala itu dan bahawasanya Tuhannya itu di antara dirinya dan antara kiblat. Maka dari itu janganlah seseorang di antara engkau semua itu berludah di arah kiblat, tetapi berludahlah di arah kiri atau di bawah kakinya." Seterusnya beliau s.a.w. mengambil hujung selendangnya, lalu berludah di situ, kemudian membolak-balikkan sebahagian selendang itu dengan bahagian lainnya yakni digosok- gosokkan ludah tadi dengan kain selendang nya berulang kali. Beliau
s.a.w. lalu bersabda: "Atau mengerjakan sedemikian ini." (Muttafaq 'alaih)

•    Adapun perintah berludah di arah kiri atau di bawah kaki itu apabila orang tersebut bersembahyangnya tidak di dalam masjid. Tetapi jikalau di dalam masjid, maka janganlah berludah melainkan wajib diletakkan dalam pakaiannya sendiri.
Demikianlah sedikit dalil yang berkaitan dengan jihad semoga bisa bermanfaat bagi kita semua..
SYUKRON KATSIRON